top of page
146520.jpg

Vokalis Tipe X, Tresno Riadi. (Foto: Sherly Julia Halim)

In-depth Festival Reportage 

Lexima Fest Sukses Lewati Permasalahan Penyelenggaraan Festival Musik

JAKARTA, F4NEWS.com – Setelah sekian lama Indonesia dilanda oleh pandemi Covid-19, para penggemar musik akhirnya bisa merasakan kembali euforia festival musik yang kini banyak diadakan secara luring. Setidaknya ada lebih dari 20 festival musik yang telah diadakan. Banyak yang bermasalah, tetapi ada juga yang berhasil diselenggarakan. Salah satunya adalah Liga Expresi Mahasiswa Festival (Lexima Fest). 

 

Diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Binawan, Lexima Fest diselenggarakan pada Minggu (27/11/22) di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Utara. Bertemakan “NATURAL X NOCTURNAL”, Lexima Fest ingin menjadi wadah milenial  menunjukkan keekspresifan, keberanian, dan mencintai hal-hal artistik. “NOCRUTNAL” juga menunjukkan sisi dunia malam yang tidak selamanya negatif, tetapi jadi waktu anak muda berkarya. 

 

Maka dari itu, festival ini pun menghadirkan beragam genre seperti pop dan sebagain besar indie dari sejumlah artis Tanah Air. Terdapat 15 penampil yang memeriahkan Lexima Fest. Ada Gangga, Feby Putri, Young Lex, Aftershine, Fourtwnty, Sisitipsi, TBA, Kangen Band, Club Dangdut Racun, OKAAY, dan Tipe-X. Tidak hanya mengundang musisi atau band ternama saja, Lexima Fest menghadirkan empat artis pendatang baru, yakni Crayon Cosmos, Gudensway, Mad Mad Man, dan OMPLR.

 

Suksesnya Lexima Fest 2022 ditandai dengan banyaknya pengunjung yang hadir dan besarnya antusiasme mereka. Dengan banyak acara musik yang dibatalkan tahun ini, Lexima Fest tetap sukses menggelar festivalnya. Tanpa latar belakang event organizer secara profesional, panitia Lexima Fest yang merupakan para mahasiswa, berhasil menepis salah satu tantangan terbesar dalam pelaksanaan festival musik tahun ini, yakni persoalan kapasitas dan kesiapan.

TBA.jpg

Kapasitas dan Kesiapan Jadi Masalah Festival Musik

TBA, Kiki, Bastian, Aldy. (Foto: Sherly Julia Halim)

Menjelang akhir tahun, sederet festival musik dibatalkan karena masalah perizinan. Misalnya, izin penyelenggara Berdendang Bergoyang pada hari ketiga festival, 29 Oktober 2022, dicabut karena pelanggaran kapasitas pengunjung. Kemudian, MSKLG Vol III yang direncanakan pada 25 hingga 27 November 2022, harus dibatalkan dua hari sebelum acara karena alasan perkembangan kasus pandemi Covid-19.

 

Menanggapi hal ini, Dosen London School of Public Relation Communication and Business Surianto mengatakan bahwa sumber permasalahan gagalnya festival-festival musik di Indonesia sekarang ini bukanlah Covid-19. Dosen sekaligus penyelenggara acara profesional ini justru heran mengapa kegagalan festival disangkutpautkan dengan Covid-19. 

 

“Covid-19 itu bukan menjadi masalah, malah menurut saya jadi solusi. Justru dengan adanya Covid, para penikmat musik festival ini, mereka jadinya harus menaati protokol yang ada,” jelas Surianto saat diwawancarai secara daring pada Rabu (21/12/22).

 

Menurut Surianto, protokol Covid-19 yang ditanamkan oleh pemerintah membantu para penonton bisa inisiatif lebih tertib untuk tidak membuat kerumunan. Ditambah, aplikasi pelacakan Covid-19 PeduliLindungi juga membantu panitia untuk mengecek kapasitas penonton. 

 

“Overload capacity ini adalah sumber dari segala masalah. Semakin banyak kita mengadakan event, semakin banyak pesertanya, masalahnya ngerembet. Crowd control-nya kurang,” kata Surianto.

 

Surianto menegaskan bahwa kapasitas yang berlebih membutuhkan lebih banyak sumber daya medis, keamanan, dan kru. Namun, festival-festival musik akhir-akhir ini tidak memiliki kesiapan tersebut. Alhasil, ketidaksiapan penyelenggara ini membuat pihak berwenang mencabut izin acara.

 

Surianto masih menoleransi jika kapasitas berlebihan terjadi di festival gratis untuk publik. Namun, kapasitas festival berbayar seharusnya sudah disepakati oleh panitia bersama pihak keamanan dan pemerintah setempat, sehingga tiket yang terjual pun tidak melebihi kapasitas. 

 

“Kenapa tiket sampai membludak terjual? Kalau komersial tapi overload, itu menurut saya ada permainan di belakangnya,” ucap Surianto heran.

SUBSCRIBE

Kapasitas dan Kesiapan Lexima Fest yang Sukses

146526.jpg

Penyanyi, Febie Putri. (Foto: Sherly Julia halim).

Lexima mendapat total 8000-an pengunjung. Untuk jumlah pengunjung tersebut, Gambir Expo Kemayoran yang dipilih Lexima sebagai tempat festival memiliki kapasitas yang cukup baik. Maka dari itu, Lexima tidak mengalami kapasitas berlebihan.

 

Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan sejumlah penonton tumbang. Sepuluh penonton dikabarkan mendatangi pos medik. Dokter Ana Silalahi, koordinator medik LEXIMA menyebutkan bahwa mayoritas penyebab penonton pingsan adalah karena kondisi mual, pusing, dan sesak.

 

“Kita berikan mereka oksigen karena kebanyakan dari mereka berdiri dalam waktu yang lama dengan kondisi siang, panas banget, dan agak berdesak-desakan, sekaligus mereka juga beraktivitas,” ungkap Ana saat diwawancarai pada Minggu (27/11/22).

 

Kondisi tumbangnya penonton ini juga diperparah dengan aksi mendorong dan mengangkat orang lain secara bergilir (body surf). Vokalis Sisitipsi, Ojan pun sempat mengingatkan penonton secara langsung untuk tidak melakukan body surf, melihat beberapa perempuan terhimpit akibat aksi tersebut.

 

Secara keseluruhan, penanganan medis dilakukan oleh tim Lexima dengan baik. Pembawa acara pun sering mengingatkan posisi-posisi titik pos medik kepada penonton yang membutuhkan.

 

Akan tetapi, Lexima perlu lebih mementingkan video prosedur keselamatan (safety briefing), mengingat Lexima hanya memutarkannya sekali di awal festival. Bahkan, menurut Surianto, festival wajib memutarkan video safety briefing setiap pergantian penampil. Sebab, video tersebut penting untuk menangani keadaan krisis.  

 

“Sebelum artis konser, harus disebutkan (safety briefing),” jelas Surianto. “Kalau sudah protokol jangan dihilangkan.”


Namun, persoalan komersial dan takut penonton bosan sering menjadi alasan penyelenggara tidak memutarkan video safety briefing sesering mungkin. Untuk menjawab permasalahan tersebut, Surianto menyarankan video safety briefing dapat dibuat berbeda-beda dan kreatif. Walau hal ini tentunya membutuhkan modal lebih banyak, tetapi, Surianto mengatakan itulah yang seharusnya penyelenggara lakukan.

146527.jpg

Vokalis Fourtwenty, Ari Lesmana. (Foto Sherly Julia Halim)

Bukan Hanya Panitia, Penonton Harus Bersiap-siap

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, peristiwa-peristiwa tidak mengenakkan dapat terjadi di luar kendali panitia Lexima. Contohnya seperti pencopetan barang atau uang dan rusuhnya penonton yang membahayakan nyawa. 

 

Hal ini juga lumrah terjadi di festival-festival musik lainnya. Maka dari itu, penting bagi pengunjung untuk tahu apa yang perlu disiapkan dan dilakukan selama festival seperti berikut ini.


 

  1. Persiapkan kesehatan dan keperluan diri

 

Dengan ramainya pengunjung, kadar oksigen di tempat festival akan berkurang. Seseorang akan lebih sulit untuk bernapas. Oleh karena itu, Surianto menegaskan penting sekali untuk datang ke festival dengan keadaan yang sehat, yakni tidak sehabis masa pemulihan sakit, belum makan, dan dehidrasi. 

 

“Gak banyak orang tahu kalau mereka datang ke festival, mereka harus datang dalam keadaan yang sangat sehat. Gak cukup (hanya) sehat,” kata Surianto.

 

Surianto pun menyarankan agar panitia lebih mensosialisasikan kesadaran akan kesehatan fisik ini, baik sebelum memasuki festival maupun lewat media sosial. 

 

Kemudian, bawalah barang-barang yang dibutuhkan saja seperti jas hujan atau payung, air minum, dan membawa obat pribadi sebelum datang ke festival.

 

  1. Memperhatikan ketentuan penyelenggara

 

Perhatikanlah baik-baik ketentuan penyelenggara yang diinformasikan di media sosial. Sebab, ada beberapa festival yang tidak memperbolehkan membawa beberapa barang, termasuk makanan atau minuman dari luar festival. Hal ini dilakukan demi kebutuhan komersial penyelenggara dengan penyewa (tenant) tempat makan di area festival.

 

  1. Memperhatikan keadaan dan tidak sendirian

 

Selama menikmati festival, penonton tetap perlu waspada menjaga diri dan barang bawaan. Sebab, kedua hal itu menjadi tanggung jawab pribadi bukan panitia. 

 

Surianto juga tidak menyarankan penonton untuk datang sendirian ke festival. Sebab, masalah apapun selama festival dapat terjadi. Festival musik membuat orang-orang lebih emosional dengan lagu-lagu yang juga emosional, sehingga rawan konflik ataupun tindak kriminal lainnya. Oleh karena itu, bawalah beberapa teman untuk ikut menikmati festival sekaligus saling berjaga-jaga.

 

“Bahaya ya, event musik itu adalah event emosi,” tegas Surianto.

Reporter: Sherly Julia Halim (00000045562), Alycia Catelyn (00000045357), Vellanda (00000044504), Gabriella Keziafanya (00000045953)

Editor: Vellanda 

Video editor: Sherly Julia Halim 

Dokumentasi: Gabriella Keziafanya, Sherly Julia Halim, Vellanda 

bottom of page